..Bertengkar secara Profesional

by - 2:23:00 PM

Keluarga yang bahagia bukan keluarga yang tidak pernah bertengkar. Semua pasangan pasti pernah bertengkar. Karena dua manusia menikah adalah dua kepala, dua ide, dua kebudayaan yang berbeda, dua kebiasaan, dua latar belakang yang juga berbeda, lalu menjadi satu. Maka pertengkaran pasti akan terjadi. Bahkan saya menyarankan kalau ada yang menikah dan bertanya bagaimana menikah bahagia? Saran saya rajinlah bertengkar. Kalau kita tidak mau bertengkar dan memendam dalam hati, ah nggak papa, padahal apa-apa. Ah, saya nggak boleh marah, nggak baik, lalu ditekan-ditekan, maka bisa-bisa lima belas tahun kemudian meledak lalu bertengkar hebat kemudian bercerai. Dan orang terheran-heran, mengapa bercerai? Lalu salah satu berkata,”Selama ini saya tidak bahagia. Selama ini saya selalu mengalah. Selama ini saya selalu, selalu, dan selalu….” Dan begitulah alasannya. Jadi selama ini tidak pernah bertengkar, tetapi justru itulah bahayanya, karena menyimpan ledakan yang besar.

Kalau mau menikah dan bahagia, maka saya sarankan, rajin-rajinlah bertengkar, yang penting bertengkarnya profesional. Bertengkar seperti kita di kantor kadang-kadang lebih profesional, bertengkar dalam arti berbeda pendapat, menyatakan argumen, harga naik atau turun, promosi ini atau itu. Kita berdebat tanpa menyerang pribadi.  Kita memberikan alasan tanpa menyerang pribadi. Seharusnya dalam pernikahan juga begitu, sampaikan alasan, uang dipakai ini atau dipakai untuk itu, mau liburan kemana, dsb. Tetapi hanya menyampaikan argumen sebatas masalah yang dibahas, dan tidak menyerang pribadi, seperti: “Dasar bodoh kamu, dasar nggak mengerti, dasar malas, dan sebagainya…” Ini namanya bertengkar tidak profesional.

Kalau kita bertengkar soal sandal, ya kita bahas soal sandal saja, misalnya,”Pa/Ma, taruh sanal yang lurus, yang rapi, supaya dilihatnya enak.” Tapi jangan berkata,”Naruh sandal saja nggak pernah rapi, dasar Wonogiri!” Nah, kota asal dibawa-bawa, suku dibawa-bawa. Ini namanya menyerang pribadi.

Soal bangun pagi misalnya. Katakan saja,”Kalau bangun pagi kita diberkati.” Jangan menyerang pribadi,”Bangun pagi saja nggak bisa, dasar pemalas, Jawa lo!” Nah, Jawa dibawa-bawa lagi. Saya orang Jawa dan bangun pagi. Ini bertengkar yang tidak profesional. Bertengkarlah tapi secara profesional.

Apa itu bertengkar secara profesional? Bertengkar tapi tanpa kepahitan. Bertengkar tapi segera memaafkan. Anak kecil bertengkar, tapi setelah itu, satu jam kemudian mereka bermain lagi. Anak kecil lebih bisa bertengkar dengan baik. Mari kita bertengkar tapi belajar seperti anak kecil. Anak kecil bertengkar satu jam main lagi. Suami-istri bertengkar jangankan satu jam, satu minggu, atau satu bulan nggak main lagi. Suami berkata malam-malam,”Mama…” Istri berkata,”Ogah, ah…” Waduh, nggak main lagi, padahal bertengkarnya sudah seminggu yang lalu. Ini namanya kecewa, kepahitan dan bertengkar dengan membawa perasaan.

Menikah adalah dua orang yang berbeda, beda latar belakang keluarga, budaya dan kebiasaan, maka pertengkaran pasti terjadi. Kalau kita menghindari pertengkaran, maka sebenarnya kita hanya memperpanjang proses memahami satu dengan yang lain. Kita memperpanjang jalan untuk bisa mengerti satu dengan yang lain. Tetapi dengan mengungkapkan pendapat, dnegan berbicara bahkan kadang-kadang berdebat atau saya katakan bertengkar, semua itu tidak ada masalah, yang penting kita bertengkar secara profesional, bertengkar secara baik. Dengan begitu pasangan akan memahami kita. Jangan menyerang pribadi.

Keluarga yang bahagia, keluarga yang kokoh bukanlah keluarga yang tidak pernah bertengkar, tetapi keluarga yang menyelesaikan pertengkaran dengan baik. Semua siap sedia untuk memberikan pengampunan. Semuanya siap sedia untuk menerima kembali. Semuanya tidak saling menyerang pribadi. Perbedaan, perdebatan dan pertengkaran hanyalah warna kehidupan. Karena itu belajarlah bijaksana untuk memiliki kebaikan hati, siap mengampuni, sekalipun berbeda pendapat, namun tetap berhubungan baik.

Source: Facebook

You May Also Like

0 komentar

Note: Only a member of this blog may post a comment.