..Teman Bicara yang Baik

Wednesday, May 18, 2011

..Teman Bicara yang Baik


Banyak suami atau laki-laki sanggup menghadapi kerugian, sanggup menghadapi kegagalan. Yang dia tidak sanggup adalah bagaimana bercerita kepada istrinya kalau ia rugi atau gagal. Karena amarah istri dirasa lebih berat dari beban kerugian itu sendiri.

Banyak anak-anak takut bercerita jujur kalau nilainya jelek. Anak-anak sanggup menghadapi nilai jelek, yang mereka tidak sanggup adalah menghadapi orang tuanya, ketika orang tuanya mengetahui nilai anaknya jelek.
Mengapa anak-anak menjadi ketakutan? Mengapa suami menjadi ketakutan? Lalu mereka bohong, mereka tidak jujur? Karena marah yang berlebihan. Istri harusnya penolong suami, bukan penggonggong atau perongrong. Orang tua harusnya menjadi tempat mengadu bagi anak-anak ketika anak merasa gelisah karena nilainya jelek, ia pulang ke rumah dan bercerita, saatnya orang tua memberikan tempat perlindungan, memberikan kata-kata dorongan, kata-kata encouragement.

Orang tua perlu menilai dengan obyektif. Apakah anaknya sudah berusaha sungguh-sungguh. Yang penting lihatlah usahanya. Kalau ia belum sungguh-sungguh, dorong dia, temani dia untuk belajar sungguh-sungguh. Seandainya ia sudah berusaha sungguh-sungguh tapi hasilnya belum maksimal, maka orang tua harus mengutamakan melihat proses, memuji karakter baru kemudian prestasi. Ketika orang tua marahnya wajar saja, tidak berlebihan, maka anak tidak takut untuk jujur. Ketika istri bisa memahami kesalahan, kegagalan dan kerugian suami, bahkan memberikan kata-kata dorongan, kata-kata encouragement, kata-kata yang menunjukkan bahwa ia diterima, maka ia akan merasa bahwa rumah adalah tempat untuk pulang. Bahwa istri adalah teman bicara, teman hidup yang baik, maka ia akan senang berbicara dan bercerita kepada istrinya.

Tetapi bila pasangan bukan teman bicara yang baik, maka ia akan menjadi pendiam atau berbicara pendek-pendek. Kalau pasangannya bertanya,”Bagaimana di kantor?” Ia akan menjawab,”Baik.” Dia lebih senang berbicara dengan teman di kantor atau ngobrol sampai malam di kafe, lalu pulang tinggal tidur. Suami istri tidak bicara lagi, karena pasangannya bukan teman bicara yang baik. Karena itu mari belajar bijaksana dengan menjadi teman bicara yang baik. Teman bicara bagi pasangan, teman bicara bagi anak.

Ketika kita mendengar sesuatu yang tidak enak, mendengar sesuatu yang tidak baik, tapi mereka berani menceritakannya dengan jujur, mari kita hargai kejujuran itu dengan tanggapan yang obyektif. Supaya mereka tetap berani terbuka, membangun hubungan, dengan bercerita. Karena bila istri tidak mau berbicara dengan suami, suami tidak bicara dengan istri, anak tidak bicara dengan orang tua, maka tidak lama lagi, bersiaplah menghadapi kejutan-kejutan yang betul-betul mengejutkan. Tiba-tiba pasangan selingkuh, tiba-tiba anak hamil di luar nikah, tiba-tiba anak terlibat narkoba. Mengapa terasa tiba-tiba? Karena putus komunikasi. Kenapa putus komunikasi? Karena mungkin selama ini kita bukan menjadi teman bicara yang baik, bukan pendengar yang baik.

Karena itu mari menjadi bijaksana dengan belajar menjadi teman bicara yang baik, menanggapi segala sesuatu secara obyektif, supaya pasangan dan anak kita berani berbicara dengan kita. Jangan sampai anggota keluarga kita takut, tapi biarlah mereka hormat. Kalau kita menjadi pendengar yang baik dan perespon yang bijaksana, maka kita akan mendapat hormat.

0 komentar :

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.